:: Lestarikan Alamku ::

Jauh dari pola hidup kita yang dalam keseharian berjalan menuju kesuksesan, kesenangan ataupun harapan untuk menuju hidup sejahtera. Hal itu ada dalam kehidupan yang sebenarnya ada pada hal-hal kecil yang terkadang kita abaikan. Perhatian kita selama ini terlanjur terbuang untuk mencapai hal-hal tersebut, maka sudah saatnya kita kembali mencermati apa saja yang harus kita perhatikan guna menjaga eksistensi kita sebagai manusia.

Di era tahun 70-an bangsa kita terkenal akan sumberdaya alamnya yang melimpah, sampai saat ini hampir 353 unit HPH yang dikelola oleh Suwasta dan negara berdiri untuk mengelola hutan negeri ini. Kemudian kemanakah hasil hutan kita? Mengapa terjadi krisis perekonomian yang tak kunjung berakhir dari tahun 1998 hingga saat ini. Mengapa sering terjadi krisis air padahal negara kita adalah negara kepulauan dan mengapa sering terjadi bencana banjir padahal hutan rimba kita cukup untuk mengendalikannya.

Semakin membanggakannya negara kita dalam hal Sumberdaya Alam yang berlimpah, semakin hilang juga perhatian kita pada kondisi kehutanan saat ini. Saat kita membanggakan rimba raya ini saat itu pula pembalakan yang tak terkendali terjadi di mana-mana.

Benar atau tidak bahwa hutan kita dari hari demi hari telah rusak dan hilang keberadaanya. Kita tidak akan pernah tau tanpa perhatian kita yang harus di alihkan pada kondisi kehutanan saat ini.

Berdasarkan (Citra Landsat 1977-1999) dari seluruh area yang berada dalam konsesi HPH (33,8 juta Hektar) hanya seluas 16.120.893 hektar (48%) yang masih berupa hutan Primer, sisanya seluas 8.885.369 hektar (26%) merupakan hutan sekunder dan 8.728.403 Hektar (26%) merupakan areal non Hutan (Terdegradasi Berat) sedangkan lamanya pengelolaan hutan tersebut oleh HPH dari luas 16.120.893 hektar memerlukan waktu 0 tahun untuk mengelola hutan tersebut (Manggala Wanabhakti, 2002)

Fakta di atas menunjukan bahwa saat ini kita hanya mempunyai waktu 30 tahun lagi untuk memanfaatkan luas hutan sisanya dan 30 tahun lagi untuk me-Rehabilitasi 8.728.403 hektar area hutan yang terdegradasi berat. Sedangkan jika dalam waktutersebut kita tidak mampu untuk mengembalikan kondisi hutan kita maka bencana yang besar dan melibatkan banyak aspek kehidupan akan terjadi. Hingga pada tempat yang kita anggap aman sekalipun.

Kita dapat melihat hal-hal sederhana yang selangkah demi selangkah kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Perubahan-perubahan inilah yang harus kita waspadai dari dampak semakin kronisnya penykit yang menggerogoti hutan bangsa kita. Kenapa kita tidak bisa mencontoh dari kesuksesan-kesuksesan yang telah diukir oleh negara asia yang lainnya dalam mengelola hasil hutan yang lestari, kenapa kita tidak bisa mencontoh negara Thailand, Vietnam ataupun negara tetangga terdekat Malaysia bahwa betapa arifnya mereka dalam mengelola hutan mereka.

Eksploitasi hutan secara besar-besaran yang telah berlangsung sejak tahap awal pembangunan jangka panjang pertama (1969) telah memberikan kontribusi besar bagi pembangunan nasional melalui produk utamanya kayu dan hasil hutan ikutan (non-kayu) (Ir Iskandar,2002)

Pada masa itu hasil hutan menjadi salah satu sumber Devisa terbesar setelah hasil tambang migas dan non migas. Sehingga bukan tidak mungkin bahwa gedung-gedung yang menjulang tinggi, jalan raya yang membentang dan pembangunan non materi aladalah hasil dari kekayaan hutan kita.

Dampak positif yang besar dari hasil pemanfaatan hutan secara besar-besaran, harus di perhatikan juga dampak negatif yang akan timbul dari pemanfaatan yang tak terkendali ini. Padahal sudah sangat jelas sekali dampak apa yang akan timbul. Jika dulu kita mendengar “lestarikan alam hanya celoteh belaka” maka sekarang kita harus membuatnya menjadi kenyataan bahwa melestarikan alam adalah karya nyata kita sebagai anak bangsa. Jika dulu kita dijuluki “macan Asia” maka kita harus mengembalikan kembali nama baik itu. Mengembalikan udara negri kita yang segar dan mengembalikan tanah kita yang subur, sebagai negara yang memberikan kontribusi jasa lingkungan terbesar pada dunia.

Jauh dari aktifitas kita, jauh dari keinginan dan kehendak pada satu kepentingan-kepentingan tertentu, maka sudah saatnya kita menjadi Inspirasi bagi negara dalam menciptakan kebijakan untuk menjaga sumberdaya alam yang terlanjur teramanahkan tersebut.

sumber :: http://www.allvoices.com/contributed-news/2674691

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: